SEJARAH & SYARI’AT ZAKAT FITHRAH

بسم الله الرحمن الرحيم

Selama 13 tahun hidup di Mekkah sebelum hijrah, Nabi Muhammad telah 13 kali mengalami Ramadhan, yaitu dimulai dari Ramadhan tahun ke-41 kelahiran Nabi yang bertepatan bulan Agustus 610 M, hingga Ramadhan tahun ke-53 dari kelahirannya yang bertepatan dengan bulan April tahun 622 M. Namun selama waktu itu belum disyari’atkan kewajiban mengeluarkan zakat fithrah bagi kaum muslimiyn, dan demikian pula dengan syari’at Iydul Fithrinya.

Setelah Nabi hijrah ke Madiynah, dan menetap selama 17 bulan di sana, maka turunlah ayat 183-184 surat alBaqarah pada bulan Sya’ban tahun ke-2 H, sebagai dasar disyari’atkannya shawm bulan Ramadhan. Tak lama setelah itu, dalam bulan Ramadhan tahun itu pula mulai diwajibkan zakat kepada kaum muslimiyn. (Lihat, Tawdhiyh alAhkӓm Syarh Bulugh alMarӓm, III:371) Zakat ini kemudian populer di kalangan kita dengan sebutan zakat fithrah atau zakat fithri.

Sehubungan dengan kewajiban itu, Ibnu ‘Umar menjelaskan Baca Selengkapnya

DIARI POSISI MATAHARI & BULAN, RAMADHAN 1435 H

Latar Belakang Perbedaan Pelaksanaan Waktu Shawm di Indonesia

Zaid Nasrullah rbiruni@gmail.com

و القمر قدرنه منازل حتى عاد كالعرجون القديم

Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi Bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua. {Q.S. Yäsîn (36): 39}.

    Pajagalan, menjadi tempat observer untuk menganalisa posisi ketiga makhluk kosmos – khususnya Bulan dalam menentukan kapan Bulan baru atau yang disebut dengan hiläl bisa diamati atau tidaknya yang kemudian menjadi dasar hukum kapan shawm dimulai. Mathla’ ini lebih tepatnya berada di komplek Pesantren Persatuan Islam 1 & 2 Bandung berkoordinat longitude 107o 36′ 1,47″ BT sementara latitude 06o 55′ 23,16″ LS dengan elevasi 703 m di atas permukaan air laut. Secara resmi, ada lebih dari 20 Pos Observasi Bulan (POB) titik pengamatan yang tersebar di Indonesia yang bekerja sama dengan KOMINFO sehingga bisa diakses secara streaming di antaranya; Obs. Bosscha, Pangandaran, Bangkalan, Padang, Anyer, Pameungpeuk, Mataram, Manado, Surakarta, Jepara, Bagansiapiapi, Medan, Denpasar, Rembang, Yogyakarta, Ambon, Pelabuhan Ratu, Lhoknga, Kupang, Lampung, Pontianak, Makassar.


Sunnatulläh yang menjadi dasar penetapan kapan dimulai awal penanggalan adalah konjungsi atau ijtima’ yang berimbas pada hiläl itu sendiri – secara geosentrik (pengamat diandaikan di pusat Bumi) terjadi pada Jum’at, 27 Juni 2014 pukul 15:08:26 WIB saat ketinggian Bulan di permukaan Bumi sebesar 34o 28′ 20″ di atas ufuq dengan nilai azimuth 298o 37′ 30″ artinya posisi Bulan berada di serong kanan dari titik Barat sedangkan Matahari berada di atas ufuq 33o 25′ 46″ dengan azimuth 303o 54′ 40″ sehingga selisih ketinggian dan azimuthnya sebesar 1o 2′ 34″ dan 5o 17′ 10″, hal ini bisa dicoba meru-yat sore hari dengan catatan kondisi cuaca sangat cerah disertai kelembaban yang sangat rendah seperti Baca Selengkapnya

Uchuu Kyoudai

بسم الله الرحمن الرحيم

Uchuu Kyoudai

Siapa yang tidak mengalami kesulitan coba mencari anime berbau astro?!

Hmmm…

Sulit rasanya mencari anime yang satu ini, dari sekian anime yang bertebaran di dunia maya tapi setelah berselancar ke sana ke mari akhirnya ketemu juga animenya, baru anime ini yang berhubungan erat dengan pengenalan atau edukasi pelatihan untuk jadi seorang antariksawan atau orang Rusia bilang Kosmonot dengan kata lain Amerika menyebutnya Astronot yang notabenenya kita sebagai warga masyarakat biasa yang ingin tau pelatihan maupun kehidupan di NASA bagaimana seperti saya.

#Kepo sedikit tidak apa-apa…

Hhe
:-3

Uchuu Kyoudai

Anime kali ini menceritakan dua orang bersaudara yang bercita-cita ingin pergi ke luar angkasa menjadi seorang astronot. Motivasi ini timbul sesaat ke dua bersaudara ini melihat UFO yang kemudian menghilang ke Bulan. Maka timbul rasa ingin pergi ke luar angkasa yang di mulai oleh Nanba Hibito sang adik berkata ingin ke Bulan kemudian sang kakaknya tidak mau kalah dari adiknya “Aku akan pergi ke Mars” cetusnya ke luar dari mulut Nanba Mutta.
Tanpa basa-basi lagi langsung diunduh saja…

Baca Selengkapnya

Diari Posisi Bulan & Matahari, Syawwal 1434 H

Diari Posisi Bulan & Matahari, Syawwal 1434 H

Latar Belakang Berhari Raya Fithri Sama

بسم الله الرحمن الرحيم

و القمر قدرنـــه منازل حتى عاد كالعرجون القديم. لاالشمس ينبغي لهآ أن تدرك القمر ولاالليل سابق النهار وكل فى فلك يسبحون.

Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaranyang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua. (39) tidaklah mungkin bagi Matahari mengejar Bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.{Q.S. Yasin: 39-40}.

Tentu, mathla’ atau observer tempat pengamatan sudah menjadi suatu inputan data yang sangat penting saat akan menghitung posisi Matahari dan Bulan. Sebenarnya ada lebih dari 20 pos titik pengamatan yang tersebar di Indonesia, di antaranya; Obs. Bosscha, Pangandaran, Bangkalan, Padang, Anyer, Pameungpeuk, Mataram, Manado, Surakarta, Jepara, Bagansiapiapi, Medan, Denpasar, Rembang, Yogyakarta, Ambon, Pelabuhan Ratu, Lhoknga, Kupang, Lampung, Pontianak, Makassar. Dari 20 lebih tempat pos pengamatan – Pajagalan, Bandung menjadi titik pengamatan tambahan yang berada di komplek Pesantren Persatuan Islam 1-2 memiliki koordinat longitude
107o 36′ 1,47″ T sementara latitude 06o 55′ 23,16″ S dengan elevasi 703 m berada di atas permukaan air laut.

Ijtima’ atau peristiwa konjungsi geosentrik ketika Matahari, Bulan, dan Bumi sejajar terjadi pada Rabu, 7 Agustus 2013 pukul 04:50:41 WIB jika diandaikan pengamat berada di pusat Bumi – akan tetapi ketika berada 703 m di atas permukaan air laut, ijtima’ ini terjadi pada pukul 03:21:40 WIB dini hari yang disebut dengan toposentris saat Bulan mulai meninggalkan titik terjauhnya berjarak 401.041,7 km sementara jarak Bumi – Matahari 151.720.089 km.

Gambar 1. Cahaya Hilal tampak terlihat walaupun cukup tipis saat posisi Matahari dan Bulan jika diamati di Bandung ketika terbenam. Kredit Stellarium.

Sejak ijtima’ sampai Matahari terbenam di ufuq Barat yang menyerong ke arah Utara dengan sudut 16o 12′ 50″ pada pukul 17:54:31 WIB – usia Hilal mencapai 14J 32m 51d ketika piringan Bulan terbenam secara sempurna pada pukul 18:12:18 WIB sehingga memiliki kesempatan untuk melihat Hilal cukup lama yaitu 17m 47d, sedangkan waktu terbaik untuk mengamati Hilal saat kontras cahaya latar belakang hasil pembiasan atmosfer atau lembayung (syafaq) mulai meredup sementara citra Hilal mulai lebih terang pada pukul 18:02:25,22 WIB yang bermagnitude semu – 04,68 dengan luas sabit Bulan relatif terhadap seluruh bundar Bulan atau secara astronomi disebut illuminasi 0,48% dan lebar tanduk Bulan 0o 0′ 7″.


Sekalipun illuminasi < 1% yang menandakan batas bawah hilal tidak bisa diamati, akan tetapi berdasarkan posisi Matahari dan Bulan sejatinya ada dua faktor yang mengindikasikan bahwa hilal bisa diamati atau tidak karena adanya beda tinggi atau irtifa’ relatif (aD) antara Matahari dan Bulan sebesar 4o 13′ 31″ dan elongasi (aL) merupakan jarak sudut yang didapat dari tinggi relatif dan beda azimuth relatif sebesar 5o 57′ 56″ dari sudut Azimuth Matahari 286o 12′ 50″ serta Azimuth Bulan 280o 14′ 53″

sehingga elongasinya sebesar 7o 18′ 33″ yang melewati batas bawah dari kriteria LAPAN yang digunakan Pemerintah dan PERSIS dengan bentuk persamaan: aD ≥ 0,14 aL2 – 1,83 aL + 9,11 (secara toposentrik dan airless di mana kondisi atmosfer diasumsikan tidak ada), artinya posisi Matahari dan Bulan sudah melebihi batas bawah kriteria aD > 4o sedangkan aL > 6,8o untuk bisa diamati.

Gambaran umum mengenai garis batas penanggalan hijriyah yang terjadi di seluruh dunia seperti pada peta ICOP menggunakan kriteria Odeh dengan dua parameter yang berbeda dari kriteria LAPAN, yaitu tinggi Matahari – Bulan dengan batas minimal 6,4o serta lebar tanduk hilal dengan bentuk persamaan: V = aD – (– 0,1018 W3 + 0,7319 W2 – 6,3226 W + 7,1651) dan tentu saja hal ini lebih tinggi dibandingkan LAPAN sebagaimana pada peta garis batas penanggalan di bawah.

Gambar 2. Garis batas penanggalan di Indonesia pada daerah tanpa warna yang artinya tidak bisa diamati pada kriteria Odeh. Kredit Accurate Times.

Gambar 2. Garis batas penanggalan di Indonesia pada daerah tanpa warna yang artinya tidak bisa diamati pada kriteria Odeh. Kredit Accurate Times.

Berdasarkan garis arsiran pada peta di atas pada saat ghurub 7 Agustus 2013 hilal tidak bisa diamati di Indonesia karena menggunakan kriteria Odeh yang lebih tinggi daripada LAPAN. Tentu saja ceritanya akan berbeda jika menggunakan kriteria LAPAN. Garis penanggalan yang diarsir warna biru akan bergeser ke wilayah Indonesia khususnya Pajagalan, Bandung sehingga hilal memungkinkan bisa diamati.

Lantas, mengapa pada bulan Syawwal tahun ini tidak mengalami perbedaan seperti pada bulan Ramadhan saat Muhammadiyah memutuskan shawm pada tanggal 9 Juli 2013 sementara Pemerintah menetapkan tanggal 10 Juli 2013?

Sebagaimana kita ketahui dari awal pembahasan, ijtima’ terjadi pada waktu Shubuh yang terjadi sebelum Matahari terbenam yang merupakan tonggak perubahan atau penggantian hari ataupun kalender di dalam Islam. Di samping itu, tonggak atau syarat lainnya adalah Bulan atau Hilal terbenam setelah Matahari (hilal berada di atas ufuq saat ghurub), Hilal terbenam pada pukul 18:12:18 WIB sementara Matahari pukul 17:54:31 WIB sehingga ormas Muhammadiyyah menganut Wujudul Hilal memutuskan lebaran ‘Iydul Fithri jatuh pada tanggal 1 Syawwal 1434 H yang bertepatan dengan tanggal 8 Agustus 2013.

Sementara Pemerintah dan ormas PERSIS menganut Imkanur Ru-yat atau Visibilitas Hilal yang memiliki arti kenampakan Hilal ini didasarkan pada pemaknaan Hilal itu sendiri.

  • Secara etimologi

Penyebutan Hilal dalam bahasa Arab memiliki arti asal yaitu;

هلّ و أهلّ الهلال

Tampak, terlihat. (Kamus al-Munawwir: 1514).

الهلال و هو فى الأصل البياض (الفائق فى غريب الحديث و الأثر ١:٤٩١)

Hilal itu makna asalnya adalah putih. (al-Fӓiq 1: 491).

الهلال البياض الذي يظهر فى أصول الأظفار (لسان الأرب ١١: ۷۰١)

Hilal adalah warna putih yang tampak pada pangkal kuku. (Lisӓnul Arab 11: 701)

الهلال غرة القمر حين يهله الناس فى غرة الشهر (لسان الأرب ١١: ۷۰١)

Hilal adalah cahaya Bulan ketika orang-orang meneriakinya pada waktu awal bulan. (Lisӓnul Arab 11: 701(

  • Secara Terminologi

Berdasarkan istilah para ahli, Hilal didefinisikan sebagai;

قال الراغب: الهلال القمر فى أول ليلة و الثانية {المفردات فى غريب القرآن ١٨٩}

Ar-Räghib berkata, “Hilal adalah Bulan pada permulaan malam dan malam ke dua.

عند أهل الهيئة: ما يرى من القمر أول ليلة

Para ahli yang lain mengatakan, “Apa yang dilihat dari Bulan pada awal malam.

قال الشيخ محمد بن صالح العثيمين: القمر حين يبدو أول الشهر إلى ثلاث ليال {الألمام ببعض أيات الأحكام ٢٩}

Syaikh al-’Utsaymiyn berpendapat, “Ketika Bulan muncul pada awal bulan sampai tiga malam.

Adapun secara astronomis Hilal (Crescent) merupakan penampakan Bulan yang paling kecil atau muda (tampak seperti garis lengkung) menghadap ke Bumi yang terjadi beberapa saat setelah ijtima’.

Penamaan hilal dari definisi uraian para ahli bahasa Arab berbeda pendapat – mulai dari hari pertama saja, malam kedua dan ketiga pun berpendapat masih disebut dengan Hilal. Akan tetapi para ahli sependapat penamaan hilal dimulai pada malam pertama. Selanjutnya pertimbangan dari banyak ayat yang menjelaskan tentang gerak Matahari dan Bulan serta hadits Nabi SAW. tentang shawm salah satunya.

حَدَّثَنَا آدَمُ ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ قَالَ : سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، يَقُولُ : قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ، أَوْ قَالَ : قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ صلى الله عليه وسلم صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ ﴿ رواه البخاري ﴾

Telah menceritakan kepada kami Adam, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ziyad, ia mengatakan, “Saya mendengar Abu Hurayrah r.a. mengatakan Nabi S.A.W. bersabda atau Ia berkata, Abul Qasim S.A.W. bersabda ‘Shaumlah karena melihatnya (Hilal)dan berbukalah (‘Iyd) karena melihatnya. Apabila terhalang atas kalian, sempurnakanlah bilangan (bulan)Sya’ban menjadi tiga puluh.’” {Shahih al-Bukhari (Kitab Shawm): 479}.

Struktur kalimat pada hadits Abu Hurayrah r.a. atau mempunyai makna yang sama, perintah shawm selalu dibarengi dengan kalimat . Sementara memiliki dua arti; Melihat dengan mata dan pengertian kedua mengetahui atau yakin. Arti yang pertama seperti pada hadits dari Abu Hurayrah di mana muta’addinya kepada satu maf’ul saja pada kalimat رأى sedangkan jika dua maf’ul maka memiliki arti yang kedua artinya berdasarkan ilmu.

الرؤية بالعين تتعدى إلى مفعول واحد، وبمعنى العلم تتعدى إلى مفعولين (لسان الأرب ١٤ : ٢٩١)

Kata Ra-a artinya melihat dengan mata apabila muta’addi kepada satu maf’ul, sedangkan arti mengetahui apabila muta’addi kepada dua maf’ul (Lisӓnul Arab 14: 291)

Contoh terdiri dari dua maf’ul Sebagaimana hadits Nabi tentang shalat صلوا كما رأيتمواني أصلي kalau diperhatikan pada matan tersebut ada dua maf’ul yaitu رأيتمواني dan أصلي. Perintah Nabi pada hadits tersebut tentu dengan ilmu, kalau ada satu maf’ul maka kita harus melihatnya langsung sebagaimana Nabi shalat – tentu hal ini kita mendapatkan kesulitan untuk mengamalkannya karena terpaut sangat jauh 14 abad.

Sehingga kita bisa mengambil istinbath hukum berdasarkan dalil di atas di mana hilal harus bisa diamati sebagai patokan penentu awal penanggalan pada bulan hijriyah. Kesimpulan pun bisa ditarik pada analisis data dengan pedoman al-Qur’an dan as-Sunnah saat hilal bisa diamati. Sedangkan kondisi hilal pada saat terbenam 7 Agustus 2013memungkinkan untuk diamati, maka lebaran ‘Iydul Fithri jatuh pada 8 Agustus 2013 yang secara kebetulan sama dengan Muhammadiyyah karena sudah memenuhi kriteria masing-masing. Sementara NU harus menunggu hasil sidang itsbat yang akan diselenggarakan seusai ru-yat.

و الله أعلم

الله يأخذبأيدينا إلى مافيه خير للإسلام و المسلمين

Sora No Manimani

بسم الله الرحمن الرحيم

sora-no-manimani

Sulit rasanya mencari anime yang satu ini, dari sekian anime yang bertebaran di dunia maya baru anime ini yang berhubungan dengan pengenalan atau edukasi tentang astronomi yang notabenenya newbie alias pemula.

Cerita ini berawal dari seorang anak yang punya ketertarikan atau hobi terhadap astronomi bernama Mihoshi Akeno kemudian dia mengajak teman laki-lakinya bernama Saku Ooyagi yang lebih senang membaca buku di kamarnya yang diterangi cahaya buatan. Pada akhirnya Mihoshi mengajak Baca Selengkapnya

Diari Posisi Bulan & Matahari Ramadhan 1434 H

بسم الله الرحمن الرحيم

يسئلونك عن الأهلةۖقل هي مواقيت للناس والحج…

Mereka bertanya kepadamu tentang Hilal, katakanlah, “Hilal itu adalah penentu waktu bagi manusia dan (bagi penentuan waktu ibadah) haji.
{Q.S. al-Baqarah (2): 189}.

Mathla’ tempat titik pos pengamatan berada di komplek Pesantren Persatuan Islam 1-2 Bandung berkoordinat longitude 107o 36′ 1,47″ T sementara latitude 06o 55′ 23,16″ S dengan elevasi 703 m berada di atas permukaan laut.

Konjungsi geosentrik atau konjungsi secara astronomis atau ijtima’ dalam istilah Ilmu Falak adalah peristiwa ketika bujur ekliptika Bulan sama dengan bujur ekliptika Matahari dengan pengamat diandaikan berada di pusat Bumi terjadi pada pukul 14:14 WIB dengan jarak Matahari – Bumi 152.094.283 km dan Bumi – Bulan 405.923,0 km yang sudah melewati titik terjauhnya masing-masing pada Ahad, 7 Juli 2013 mendatang yang disebut dengan aphelion dan apogee.

Gambar 1. Posisi Matahari dan Bulan jika diamati di Bandung saat Matahari terbenam sementara Hilal ada di atas Matahari. Kredit Stellarium.

Posisi dua benda langit ketika Matahari terbenam, ketinggian Matahari -01o 44′ 28″ di bawah ufuq atau horizon sedangkan Bulan -01o 00′ 43″ dengan selisih ketinggiannya mencapai 0o 43′ 45″. Sudut azimuth Matahari 292o 22′ 47″ sedangkan Bulan 287o 51′ 36″ dengan selisih 4o 31′ 11″ yang dimulai dari titik Utara sebagai acuan searah jarum jam dengan elongasi (sudut pisah) antara Matahari – Bulan 4o 48′ 09″ jika diamati dipermukaan Bumi dengan ketinggian 703 m di atas permukaan air laut.

Gambar 2. Daerah luasan arsiran Hilal di seluruh dunia pada Senin, 8 Juli 2013. Kredit Accurate Times.

Luas arsiran ditinjau dari seluruh dunia – wilayah Indonesia yang tidak ada warna arsiran yang artinya tidak mungkin bisa dilihat atau diru’yat meskipun dengan bantuan peralatan optik karena kecerahan Hilal tidak cukup seperti di Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan sebagian wilayah Kalimantan Selatan serta Sulawesi Selatan. Sebagian wilayah Amerika Latin diarsir warna biru artinya membutuhkan peralatan optik semisal teleskop untuk bisa diamati sedangkan untuk daerah arsiran berwarna merah mengindikasikan bahwa Bulan terbenam terlebih dahulu daripada Matahari.

Keesokan harinya – Selasa, 09 Juli 2013 saat Matahari terbenam di ufuq yang condong ke Barat Laut di waktu maghrib mengalami perbedaan daerah arsiran – warna hijau tampak mendominasi di seluruh dunia yang artinya bisa dilihat dengan mudah menggunakan mata telanjang diikuti arsiran berwarna magenta, biru, tidak berwarna, serta merah yang bergeser ke arah Utara lintang tinggi lebih dari 40o yang dimulai dari Alaska sampai ke Rusia.

Gambar 3. Perubahan warna hijau mendominasi di seluruh dunia beberapa daerah yang berwarna magenta, biru, tidak berwarna dan merah. Kredit Accurate Times.

Bulan terbenam pada pukul 18:41 WIB dengan Usia Bulan mencapai 27Jam 37menit yang dihitung sejak ijtima’ pada Senin, 8 Juli 2013 kemarin hingga Matahari terbenam pukul 17:51 WIB.

Ketinggian Hilal mencapai 09o 54′ 22″ sedangkan tinggi relatif terhadap Matahari 11o 38′ 50″ ketika posisi Matahari berada di bawah ufuq -01o 44′ 28″ dengan elongasi 12o 42′ 38″ – lebih dari kriteria yang diusung Pemerintah dan Dewan Hisab Rukyat PP. PERSIS tinggi Bulan > 4o dan elongasi > 6,4o. Iluminasi Bulan mencapai 01,39% bermagnitude -05,33 sedangkan lebar sabit Hilal 25″.

Sehingga beberapa wilayah Indonesia diarsir berwarna hijau yang artinya bisa dilihat dengan mudah oleh kasat mata sekalipun sementara di daerah lain masih mengandalkan bantuan alat optik yang dilalui arsiran bwerwarna magenta.

Indonesia sendiri menganut sistem wilayatul hukmi yaitu suatu sistem keterikatan dalam satu satuan wilayah jika salah satu titik pos pengamatan bisa melihat Hilal maka satu wilayah Indonesia harus mengikuti pos yang bisa dilihat.

Sehingga bisa ditarik kesimpulan, Ramadhan 1434 H mengalami perbedaan karena adanya perbedaan pada tiga kriteria terbesar yang dianut oleh ormas Islam di Indonesia yaitu Wujudul Hilal, Ru-yat, dan Imkanur Ru-yat. Wujudul Hilal dianut oleh kalangan Muhammadiyah yang menitik beratkan pada wujud artinya “ada” dalam bahasa Indonesia. Hal ini bisa dianalogikan dengan wujud pada sifat Allah – bukan berarti abstrak. Allah sebagaimana kita yakini ada akan tetapi tidak bisa dilihat oleh panca indera karena keterbatasan kita, begitu pula dengan adanya Hilal akan tetapi tidak bisa dilihat. Akan tetapi kriteria Wujudul Hilal mengesampingkan sunnah Nabi SAW. yang berkaitan dengan kalimat “غمّ” dkk yang artinya terhalang oleh apa pun itu sehingga shaum pun jatuh pada Selasa, 9 Juli 2013. Sedangkan kriteria Ru-yat didominasi oleh kalangan NU (Nahdhatul Ulama) dimana pengambilan keputusan finalnya saat observasi atau ru-yat sehingga berhasil mendapatkan citra Hilal baik itu menggunakan mata telanjang ataupun bantuan alat optik semacam teleskop ataupun binokuler sehingga shaum pun kemungkinan bertepatan pada hari Rabu, 10 Juli 2013 walaupun sebenarnya untuk menentukkan posisi diari Bulan dan Matahari pada awalnya menggunakan perhitungan alias hisab. Ada pun Imkanur Ru-yat merupakan kriteria yang digunakan oleh ormas Islam bernama PERSIS (Persatuan Islam) yang shaum bertepatan pada hari Rabu, 10 Juli 2013 saat Hilal memungkinkan untuk diru’yat ketika maghrib pada hari Selasa, 9 Juli 2013.

و الله أعلم

الله يأخذبأيدينا إلى مافيه خير للإسلام و المسلمين

Makalah ini disampaikan pada Kamis, 6 Juni 2013 acara halaqah Pemuda PERSIS cab. Cimahi Selatan di masjid al-Hidayah, Melong Cikendal.

Status Hadits Tentang Keutamaan Bulan Rajab

STATUS HADIS TENTANG KEUTAMAAN BULAN RAJAB

 

 

بسم الله الرحمن الرحيم

A.    Doa ketika melihat bulan sabit Rajab

Beberapa orang di antara jama’ah pengajian bertanya kepada kami tentang do’a ketika melihat Bulan Sabit Rajab, sehubungan mereka menemukan penjelasan pada salah satu web internet sebagai berikut:

Anas bin Malik berkata bahwa ketika memasuki bulan Rajab Rasulullah SAW berdo’a, “Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan.”

Hadits ini bersumber: Al-Faqih Abu Muhammad Isma’il bin Al-Husein Al-Bukhari dari Al-Imam Abu A’la’, tahun 399 H, dari Isma’il bin Ishaq, dari Muhammad bin Abu Bakar, dari Zaidah bin Abi Raqad dari Ziyadah An-Numairi dari Anas bin Malik. (Fadhail Syahr Rajab: 494).

Sumber: www.syamsuri149.wordpress.com

Tanggapan: 

Sepanjang pengetahuan kami, hadits tentang do’a ketika memasuki bulan Rajab diriwayatkan oleh beberapa mukharrij (pencatat hadits) sebagai berikut:

  1. Abdullah bin Ahmad bin Hanbal melalui rawi Ubaidullah bin Umar, dari Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad, dari Ziyad An-Numairy, dari Anas bin Malik, dengan redaksi:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَانَ وَكَانَ يَقُولُ لَيْلَةُ الْجُمُعَةِ غَرَّاءُ وَيَوْمُهَا أَزْهَرُ

Nabi SAW apabila memasuki bulan Rajab beliau berdo’a, “Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan berkahi kami bulan Ramadhan.” Dan beliau bersabda, “Malam Jumat adalah (malam) bagus (terang bulan) dan harinya indah (cerah bersinar).” (Al-Musnad, IV:180, No. hadis 2346). 

  1. Al-Bazzaar melalui rawi Ahmad bin Malik Al-Qusyairiy, dari Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad, dari Ziyad An-Numairy, dari Anas bin Malik, dengan redaksi:

أَنّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ وَ كَانَ إِذَا كَانَ لَيْلَةُ الْجُمُعَةِ قَالَ : هذِهِ لَيْلَةٌ غَرَّاءُ وَ يَوْمٌ أَزْهَرُ

Sesungguhnya Nabi saw. apabila memasuki bulan Rajab beliau berdoa, “Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan.” Dan apabila malam Jumat, beliau bersabda, “Ini adalah malam yang bagus (terang bulan) dan hari yang indah (cerah bersinar).” (Musnad Al-Bazzaar, II:290, No. hadis 6494)

  1. At-Thabrani melalui dua jalur periwayatan:

    Pertama: Ali bin Sa’id Ar-Razi, dari Abdus Salaam bin Umar Al-Junniy, dari Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad, dari Ziyad An-Numairy, dari Anas bin Malik, dengan redaksi:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Rasulullah saw. apabila memasuki bulan Rajab beliau berdoa, “Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan.” (Al-Mu’jamul Ausath, IV:189, No. hadis 3939)

Kedua: Yusuf Al-Qaadhiy, dari Muhammad bin Abu Bakar Al-Muqaddamiy, dari Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad, dari Ziyad An-Numairy, dari Anas bin Malik, dengan redaksi:

أَنّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Sesungguhnya Nabi saw. apabila memasuki bulan Rajab beliau berdoa, “Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan.” (Ad-Du’aa, I:284, No. hadis 911)

  1. Al-Baihaqi melalui dua jalur periwayatan:

    Pertama: Abu Abdullah Al-Hafizh (Imam Al-Hakim), dari Abu Bakar Muhammad bin Al-Mu’ammil, dari Al-Fadhl bin Muhammad Asy-Sya’raaniy, dari Al-Qawaariiriy, dari Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad, dari Ziyad An-Numairy, dari Anas bin Malik, dengan redaksi:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا فِي رَمَضَانَ وَكَانَ يَقُولُ لَيْلَةُ الْجُمُعَةِ لَيْلَةٌ غَرَّاءُ أوْ يَوْمُ الْجُمُعَةِ يَوْمٌ أَزْهَرُ

Nabi saw. apabila memasuki bulan Rajab beliau berdoa, “Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan berkahi kami bulan Ramadhan.” Dan beliau bersabda, “Malam Jumat adalah malam yang bagus(terang bulan)  atau hari Jumat adalah hari yang indah (cerah bersinar).” (Syu’aabul Iimaan, III:375, No. hadits 3815)

Kedua: Abu Zakariya bin Abu Ishaq, dari Abu Bakar Muhammad bin Al-Mu’ammil bin Al-Hasan bin Isa, dari Al-Fadhl bin Muhammad, dari Al-Qawaariiriy, dari Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad, dari Ziyad An-Numairy, dari Anas bin Malik, dengan redaksi:

كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ : اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ. قال وَكَانَ يَقُولُ : لَيْلَةُ الْجُمُعَةِ لَيْلَةٌ غَرَّاءُ وَيَوْمُ الْجُمُعَةِ يَوْمٌ أَزْهَرُ

Rasulullah saw. apabila memasuki bulan Rajab beliau berdoa, “Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan berkahi kami bulan Ramadhan.” Kata Anas, “Dan beliau bersabda, ‘Malam Jumat adalah malam yang bagus (terang bulan) atau hari Jumat adalah hari yang indah (cerah bersinar)’.” (Ad-Da’waatul Kabiir, II:142, No. hadis 529)

  1. Ibnu Asaakir melalui rawi Al-Hasan bin Muhammad Abu Muhammad Al-Baghawiy Al-Bahsyatiy, dari Umar bin Ahmad bin Muhammad bin Al-Khaliil Al-Baghawiy, dari Abul Faqiih Abu Hamid Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim bin Al-Khaliil, dari Abu Bakar Muhammad bin Al-Husain bin Hamzah Al-Marwaziy Al-Uthaar, dari Abu Thaahir Ath-Thayyib bin Muhammad bin Ahmad Al-Harawiy, dari Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin Abdullah bin Usman Al-Baghdadiy, dari Abu Ali Al-Hasan bin Muhmiy Al-Bazzaaz, dari Ubaidullah bin Umar, dari Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad, dari Ziyad An-Numairy, dari Anas bin Malik, dengan redaksi:

كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Rasulullah saw. apabila memasuki bulan Rajab beliau berdoa, “Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan.” (Mu’jam Ibnu Asaakir, I:161, No. hadis 309).

  1. Ibnu Sunniy melalui rawi Ibnu Manii’, dari Ubaidullah bin Al-Qawaariiriy, dari Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad, dari Ziyad An-Numairy, dari Anas bin Malik, dengan redaksi:

Nabi saw. apabila memasuki bulan Rajab beliau berdoa, “Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan berkahi kami bulan Ramadhan.” Dan beliau bersabda, “Malam Jumat adalah malam yang bagus(terang bulan)  atau hari Jumat adalah hari yang indah (cerah bersinar).” (‘Amalul Yaumi wal Lailah, III:265, No. hadis 658).

  1. Al-Hasan bin Abu Thaalib Al-Khalaal melalui rawi Abu Bakar Muhammad bin Ismail bin Al-Abbas Al-Waraaq dan Abu Hafsh Umar bin Ahmad (popular dengan sebutan Ibnu Syaahiin). Keduanya menerima dari Abdullah bin Muhammad Al-Baghawi, dari Abdullah bin Umar Al-Qawaariiriy, dari Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad, dari Ziyad An-Numairy, dari Anas bin Malik, dengan redaksi:

كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا فِي رَمَضَانَ وَكَانَ يَقُولُ إن لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ لَيْلَةٌ غَرَّاءُ أوْ يَوْمَها يَوْمٌ أَزْهَرُ

Nabi saw. apabila memasuki bulan Rajab beliau berdoa, “Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan berkahi kami bulan Ramadhan.” (Fadhaa’il Syahri Rajab: 3, No. hadis 1).

Berbagai keterangan di atas menunjukkan bahwa hadis tentang doa ketika memasuki bulan Rajab meski diriwayatkan oleh beberapa mukharrij namun seluruh jalur periwayatannya melalui Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad, dari Ziyad An-Numairy, dari Anas bin Malik. Jalur periwayatan seperti ini dikategorikan sebagaighariib mutlaq (tunggal). 

http://www.facebook.com/notes/amin-saefullah-muchtar/status-hadis-tentang-keutamaan-bulan-rajab-1/429660737065310

B. Penjelasan para ulama tentang status hadis

(1) Imam Al-Baihaqi, setelah mencantumkan jalur periwayatan (sanad) beserta matan (teks hadis), beliau berkata:

تَفَرَّدَ بِهِ زِيَادٌ النُّمَيْرِيُّ وَعَنْهُ زَائِدَةُ بْنُ أَبِي الرُّقَادِ قَالَ الْبُخَارِيُّ : زَائِدَةُ بْنُ أَبِي الرُّقَادِ عَنْ زِيَادٍ النُّمَيْرِيِّ مُنْكَرُ الْحَدِيْثِ

“Ziyad An-Numairiy meriwayatkan hadis itu sendirian (tanpa diperkuat oleh rawi lainnya). Hadis itu diterima darinya oleh Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad. Kata Imam Al-Bukhari, ‘Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad menerima dari Ziyad An-Numairiy, dia (Zaidah) munkarul hadits‘.” (Syu’aabul Iimaan, III:375). 

(2) Imam An-Nawawi berkata:

وَرَوَيْنَا فِي حِلْيَةِ الأَوْلِيَاءِ بِإِسْنَادٍ فِيْهِ ضَعْفٌ

“Kami telah meriwayatkan hadis itu dalam kitab Hilyatul Awliyaa dengan sanad yang di dalamnya terdapat kedaifan.” (Al-Adzkaar:274).

(3) Imam Adz-Dzahabi, pada biografi rawi Zaidah, beliau menyebutkan hadis tersebut, dan beliau berkata, “Dia (Zaidah) dha’if.” (Mizanul I’tidaal, III:96).

(4) Ibnu Hajar Al-Asqalani, setelah mengemukakan hadis tersebut riwayat Al-Bazzaar, Ath-Thabrani, Al-Baihaqi, dan Yusuf Al-Qaadhi, beliau berkata:

وَقَالَ النَّسَائِيُّ: بَعْدَ أَنْ أَخْرَجَ لَهُ حَدِيْثًا فِي السُّنَنِ: لاَ أَدْرِيْ مَنْ هُوَ وَقَالَ فِي الضُّعَفَاءِ: مُنْكَرُ الْحَدِيْثِ وَ فِي الْكُنَي: لَيْسَ بِثِقَةٍ وَقَالَ ابْنُ حِبَّانَ لاَ يُحْتَجُّ بِخَبَرِهِ

“Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad, hadisnya telah diriwayatkan oleh sekelompok rawi. Abu Hatim berkata tentang dirinya, “Dia meriwayatkan hadis-hadis marfu yang mungkar dari Ziyad An-Numairiy, dari Anas. Maka tidak diketahui apakah hadis itu bersumber darinya (Zaidah) ataukah dari Ziyad? Dan saya tidak mengetahui dia meriwayatkan hadis itu dari rawi lain selain Ziyad. Maka kami mengi’tibar (mencari pembanding dengan rawi lain) untuk hadisnya.” Kata Imam Al-Bukhari, “Dia (Zaidah) munkarul hadits.”  An-Nasai, setelah meriwayatkan satu hadis dari Zaidah dalam kitabnya As-Sunan, ia berkata, “Saya tidak tahu siapa dia?” Namun dalam kitabnya Ad-Dhu’aafaa wal Matruukiin, dia berkata, “Dia (Zaidah) munkarul hadits.” Sementara dalam kitabnya Al-Kunaa, dia berkata, “Dia tidak tsiqah (tidak kredibel).” Ibnu Hibban berkata, “Hadisnya tidak dapat dipakai hujjah.” (Tabyiinul ‘Ajab Bimaa Warada Fi Syahri Rajab: 5-6).

(5) Kata Imam Al-Haitsami:

رَوَاهُ الْبَزَّارُ وَفِيْهِ زَائِدَةُ بْنُ أَبِي الرُّقَادِ قَالَ الْبُخَارِيُّ مُنْكَرُ الْحَدِيْثِ وَجَهَّلَهُ جَمَاعَةٌ

“Hadis itu diriwayatkan oleh Al-Bazzaar, dan pada sanadnya terdapat rawi Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad. Kata Imam Al-Bukhari, ‘Dia (Zaidah) munkarul hadits.’ Dan sekelompok ulama menilai bahwa dia majhuul (tidak dikenal).” (Majma’uz Zawaa’id wa Manba’ul Fawaa’id, II:165).

(6) Ahmad Syakir  berkata:

إِسْنَادُهُ ضَعِيْفٌ

“Sanadnya dha’if.” (Al-Musnad, IV:100-101, komentar terhadap hadis no. 2346)

 
 

(7) Syekh Syu’aib Al-Arnauth  berkata:

إِسْنَادُهُ ضَعِيْفٌ

“Sanadnya dha’if.” (Al-Musnad, IV:180, komentar terhadap hadis no. 2346)

 
 

(8) DR. ‘Aamir Hasan Shabrii berkata:

إِسْنَادُهُ ضَعِيْفٌ

“Sanadnya dha’if.” (Zawaa’id Abdullah bin Ahmad bin Hanbal fil Musnad: 198)

 
 

Kesimpulan:

  1. Hadis tentang doa ketika memasuki bulan Rajab statusnya dha’if, karena kedha’ifan dua orang rawi: Ziyad An-Numairiy dan Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad.
  2. Hadis tersebut tidak dapat dijadikan landasan syariat doa ketika memasuki bulan Rajab.

http://www.facebook.com/notes/amin-saefullah-muchtar/status-hadis-tentang-keutamaan-bulan-rajab-2/429704210394296

Rasulullah Saw. bersabda:

رَجَبٌ شَهْرُ اللهِ وَ شَعْبَان شَهْرِيْ وَ رَمَضَانُ شَهْر أُمَّتِيْ…وَمَا مِنْ أَحَدٍ يَصُوْمُ يَوْمَ الْخَمِيْسِ أَوَّلَ خَمِيْسٍ فِيْ رَجَبٍ ثُمَّ يُصَلِّي فِيْمَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعَتَمَةِ يَعْنِيْ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ ثِنْتَيْ عَشَرَةَ وَكْعَةً يَقْرَأُ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ مَرَّةً و (إِ نَّآ أَنْزَلْنَهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ ) ثَلا َثَ مَرَّاتٍ وَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اثْنَتَيْ عَشَرَةَ مَرَّةً يُفْصَلُ بَيْنَ كَلِّ رَكْعَتَيْنِ بِتَسْلِمَتَيْنِ فَإِذَا فَرَغَ مِنَ الصَّلاَةِ صَلِّ عَلَيَّ سَبْعِيْنَ مَرَّةً ثُمَّ يَقُوْلُ اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيْ الأمِيْ وً عًلًى آلِهِ ثُمَّ يَسْجُدُ فَيَقُوْلُ فِيْ سُجُدِهِ سُبُوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلاَئكَةِ وَ الرُّوْحِ سَبْعِيْنَ مَرَّةً ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ فَيَقُوْلُ رَيِّ اغْفِرْلِيْ وارْحَمْ وَ تَجَاوَزْ عَمَّا تَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الأَعْظَمُ سَبْعِيْنَ مَرَّةً ثُمَّ يَسْجُدُ الثَّانِيَةَ فَيَقُوْلُ مِثْلَ مَا قَالَ فِيْ السَجْدَةِ الأُولَى ثُمَّ يَسْأَلُ اللهَ حَاجَتَهُ فَإِنَّهَا تُقْضَى قَالَ رَسُوْل الله : وَالَّذِيْ تَفْسِيْ بيَدِهِ مَا مِنْ عَبْدٍ وَلا َ لأ أَمَةٍ صَلَّى هَذِهِ الصَلاَةَ إِلاَّ غَفَرَ الله لَهُ جَمِيْعَ ذُنُوْبِهِ وَ إنْ كَانَ مِثْلَ زَيَدِ الْبَحْرِ وَ عَدَدَ وَرَقِ الأَشْجَارِ و شَفَعَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيْ سَبْعِمِائَةِ مِنْ أَهْلَ بَيْتِهِ . فَإِذَا كَانَ فِيْ أَوَّلِ لَيْلَةٍ فِيْ قَبْرِهِ جَاءَ ثَوَّابُ هَذِهِ الصَّلاَةِ فَيُجِيْبُهُ بِوَجْهٍ طَلِقٍ وَلِسَانٍ ذَلِقٍ فَيَقُوْلُ لَهُ حَبِيْبِيْ أَبْشِرْ فَقَدْ نَجَوْتَ مِنْ كُلِّ شِدَّةٍ فَيَقُوْلُ مَنْ أَنْتَ فَوَ اللهِ مَا رَأَيْتُ وَجْهًا أَحْسَنَ مِنْ وَجْهِكَ وَلاَ سَمِعْتُ كَلاَمًا أَحْلَى مِنْ كَلاَمِكَ وَلاَ شَمَمْتُ رَائِحَةُ أَطْيَبُ مِنْ رَائِحَتِكَفَيَقُوْلُ لَهُ يَا حَبِيْبِيْ أَنَا ثَوَابُ الصَلاَةِ الَّتِيْ صَلَّيْتَهَا فِيْ لَيْلَةِ كَذَا فِيْ شَهْرِ كَذَا جِئْتُ الليْلَة َ لأَ قْضِيْ حَقَّكَ وَ أُوْنِسَ وَحْدَتَكَ وَ أَرْفَعَ عَنْكَ وَحْشَتَكَ فَإِذَا نُفِخَ فِيْ الصُوْرِ أَظْلَلْتُ فِيْ عَرَصَةِ الْقِيَامَةِ عَلَى رَأْسِكَ وَ أَبْشِرْ فَلَنْ تَعْدَمَ الْخَيْرَ مِنْ مَوْلاَكَ أَبَدًا

“Rajab bulan Allah dan Sya’ban bulanku serta Ramadhan bulan umatku…(hadisnya panjang, setelah itu Nabi Saw. bersabda) Tidak ada seorang berpuasa pada hari Kamis, yaitu awal Kamis dalam bulan Rajab, kemudian shalat diantara Maghrib dan ‘Atamah (Isya) -yaitu malam Jum’at- (sebanyak) dua belas raka’at. Pada setiap raka’at membaca surat Al Fatihah sekali dan surat Al Qadr tiga kali, serta surat Al Ikhlas dua belas kali. Shalat ini dipisah-pisah setiap dua raka’at dengan salam. Jika telah selesai dari shalat tersebut, maka ia bershalawat kepadaku tujuh puluh kali, kemudian mengatakan “Allahhumma shalli ‘ala Muhammadin Nabiyil umiyi wa alihi, kemudian sujud, lalu menyatakan dalam sujudnya “Subuhun qudusun Rabbul malaikati wa ar ruh” tujuh puluh kali, lalu mengangkat kepalanya dan mengucapkan “Rabbighfirli warham wa tajaawaz amma ta’lam, inaka antal ‘Azizul a’zham” tujuh puluh kali, kemudian sujud kedua dan mengucapkan seperti ucapan pada sujud yang pertama. Lalu memohon kepada Allah hajatnya, maka hajatnya akan dikabulkan.” Rasulullah bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak ada seorang hamba laki-laki atau perempuan yang melakukan shalat ini, kecuali akan Allah ampuni seluruh dosanya, walaupun seperti buih lautan dan sejumlah daun pepohonan, serta bisa memberi syafa’at pada hari kiamat kepada tujuh ratus keluarganya. Jika berada pada malam pertama, di kuburnya akan datang pahala shalat ini. Ia menemuinya dengan wajah yang berseri dan lisan yang indah, lalu menyatakan: ‘Kekasihku, berbahagialah! Kamu telah selamat dari kesulitan besar’. Lalu (orang yang melakukan shalat ini) berkata: ‘Siapa kamu? Sungguh demi Allah aku belum pernah melihat wajah seindah wajahmu, dan tidak pernah mendengar perkataan seindah perkataanmu, serta tidak pernah mencium bau wewangian, sewangi bau wangi kamu’. Lalu ia berkata: ‘Wahai, kekasihku! Aku adalah pahala shalat yang telah kamu lakukan pada malam itu, pada bulan itu. Malam ini aku datang untuk menunaikan hakmu, menemani kesendirianmu dan menghilangkan darimu perasaan asing. Jika ditiup sangkakala, maka aku akan menaungimu di tanah lapang kiamat. Maka berbahagialah, karena kamu tidak akan kehilangan kebaikan dari maulamu (Allah) selama-lamanya.”

Hadits di atas diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi melalui dua jalur periwayatan

Pertama: Ali bin Ubaidullah bin Az-Zaaguuniy, dari Abu Zaid Abdullah bin Abdul Malik Al-Ashfahani, dari Abul Qasim Abdurrahman bin Muhammad bin Ishaq bin Mandah.

Kedua: Muhammad bin Nashir Al-Hafizh, dari Abul Qasim Abdurrahman bin Muhammad bin Ishaq bin Mandah.

Selanjutnya, Abul Qasim bin Mandah menerima dari Abul Hushain Ali bin Abdullah bin Juhaim As-Shuufiy, dari Ali bin Muhammad bin Sa’id Al-Bishri, dari Khalaf bin Abdullah As-Shaghaniy, dari Humaid At-Thawiil, dari Anas bin Malik.

Kata Imam Ibnu Al Jauziy, “Hadits ini palsu diantasnamakan Rasulullah Saw.. Para ulama hadis menuduh bahwa hadis itu diciptakan oleh Ibnu Juhaim (Ali bin Abdullah bin Juhaim As-Shuufiy), dia seorang pemalsu hadis.” (Lihat, Al Maudhuu’at, juz 2, hlm. 124-125)

 
 

Demikian pula menurut para ulama lainnya, bahwa hadis ini palsu, di antaranya Imam Ibnu Taimiyah, Asy-Syaukani, Al-Fairuzabadi, Al-Maqdisi, Al-Iraqi dan Abu Syamah. (Lihat Majmu’ Al-Fatawa, jilid 23, hlm 133-134; Al-Bida’ Al-Hauliyah, hlm. 241)

http://www.facebook.com/notes/amin-saefullah-muchtar/status-hadis-tentang-keutamaan-bulan-rajab-3-tamat/430074010357316

 

و الله أعلم

الله يأخذ بأيدينا إلى مافيه خير للإسلام و المسلمين

 

oleh Amin Saefullah Muchtar

Gerhana Matahari Cincin, 10 Mei 2013

بسم الله الرحمن الرحيم

Tidak cukup hanya 26 April lalu Allah menghendaki terjadinya gerhana, 10 Mei nanti merupakan akhir dari bulan Jumadil Akhir yang bertepatan dengan peristiwa Gerhana Matahari Cincin (GMC). Pasalnya, ijtima’ atau konjungsi akhir Jumadil Akhir 1434 H bertepatan dengan hari Jum’at pukul 07:28 WIB saat Semidiameter Matahari (SDM) mencapai maksimum sebesar 15’ 50,4” sedangkan Bulan hanya 14’ 53,8” atau 94% lebih kecil dari SDM (hal inilah alasan gerhana ini masuk kategori GMC) karena jarak Matahari – Bumi 151.058.191 km dan Bumi – Bulan 401.068,1 km masing-masing saling menjauh menuju titik aphelionnya (titik terjauh) dengan kedudukan Matahari di ekliptika berada dekat dengan titik simpul (titik potong) orbit Bulan terhadap ekliptika maka iluminasi bulan benar-benar 0% karena tidak adanya cahaya yang diteruskan Matahari ke Bulan (bagian wajah Bulan mengalami penggelapan) menghadap Bumi dengan konfigurasi Matahari – Bulan – Bumi yang menyebabkan terjadinya musim gerhana pertama yang diawali GBS kemudian GMC dan diakhiri GBPenumbra (25 Mei).
Overview_map_of_the_annular_solar_eclipse_of_10_May_2013
Jalur GMC tersebut melewati Australia dan sebagian besar berada di Samudera Pasifik yang ditandai dengan garis berwarna kuning. Adapun di luar jalur GMC tersebut akan terlihat sebagai gerhana Matahari sebagian (GMS) seperti pada gambar di atas dengan memperlihatkan citra yang jelas yang ditandai oleh batas sebagai contoh di Bandung akan terlihat sebagai GMS bukan GMC. Sedangkan gambar di bawah ini sebagai simulasi dari Gerhana Matahari Cincin yang dimulai saat Indonesia masih shubuh.
GMC
Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan sebagian Sumatera – area penggelapan di Matahari sekitar 30%-40% sedangkan di Indonesia bagian Timur dari 40%-60% artinya mengalami gerhana sebagai GMS. GMC ini bisa diamati saat Matahari terbit di ufuk Timur yang condong ke arah Timur Laut sehingga setiap kota memiliki waktu terbit dan berakhirnya GMC berbeda-beda walaupun kenyataannya sebelum Matahari terbit gerhana sedang berlangsung. Di dalam tabel, saat mulai gerhana disebutkan sampai orde detik berarti GMC ini terjadi saat Matahari sudah terbit – sementara sampai orde menit artinya gerhana berlangsung sebelum matahari terbit sehingga saat terbit Matahari sedang mengalami penggerhanaan. Format waktu di dalam tabel menggunakan WIB sehingga harus diubah ke zona masing-masing tempat (WITA & WIT) dengan menambahkan 1 atau 2 jam.

Kota

Mulai Gerhana

Akhir Gerhana

Bandung

Jakarta

Serang

Yogyakarta

Semarang

Surabaya

Pekan Baru

Tanjung Pinang

Jambi

Bengkulu

Palembang

Bandar Lampung

Pangkal Pinang

Pontianak

Palangkaraya

Banjarmasin

Samarinda

Manado

Gorontalo

Palu

Mamuju

Makassar

Kendari

Ternate

Ambon

Sorong

Jayapura

Kupang

Mataram

Denpasar

05:53

05:55

05:58

05:43

05:42

05:33

06:08

05:58

06:02

06:11

06:00

06:01

05:53

05:37

05:22

05:22

05:07

04:50:48

04:49:42

04:56

05:03

05:04

04:49

04:49:51

04:38:29

04:42:22

04:37:14

04:54

05:21

05:25

06:26:48

06:25:22

06:24:51

06:30:01

06:29:05

06:31:26

06:09:37

06:15:21

06:16:03

06:19:03

06:19:13

06:23:22

06:18:58

06:18:24

06:27:02

06:28:54

06:28:54

06:39:43

06:37:21

06:33:30

06:34:06

06:37:12

06:40:54

06:44:48

06:50:54

06:55:42

07:21:19

06:46:13

06:35:59

06:35:04

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari istri Nabi bernama ‘Aisyah r.a. Apabila anda melihat gerhana maka berdo’a, bertakbir, shalat, dan bershadaqah. Jika mendapatkan kesempatan melihat gerhana walaupun satu menit seperti yang akan dialami kota Pekan Baru, cukup hanya berdo’a, bertakbir, dan bershadaqah karena keterbatasan waktu penggerhanaan.
Jika ada kesempatan untuk mengamati Gerhana Matahari Cincin, sangat tidak dianjurkan dengan mata telanjang. Kalau pun ingin melihatnya bisa menggunakan kaca mata Matahari yang khusus untuk melihat Matahari karena intensitas cahaya Matahari direduksi sehingga mengalami peredaman cahaya – dan itu pun tidak diperkenankan dalam jangka waktu yang lama hanya beberapa menit saja kemudian matanya harap diistirahatkan, setelah beberapa lama baru bisa melihat kembali menggunakan kaca mata Matahari.

و الله أعلم

الله يأخذبأيدينا إلى مافيه خيرللإسلام والمسلمين

SYARI’AT TAKBIR IYDUL ‘ADHA

بسم الله الرحمن الرحيم

Sebagaimana dimaklumi bahwa Rasulullah SAW mensunnahkan takbir pada Iydul Fithri, sejak keluar dari rumah untuk menuju tempat shalat. Di dalam hadis-hadis diterangkan sebagai berikut:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وآله وسلم كَانَ يَرْفَعُ صَوْتَهُ بِالتَّكْبِيْرِ وَالتَّهْلِيْلِ حَالَ خُرُوْجِهِ إِلَى الْعِيْدِ  يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى

Dari Ibnu Umar sesungguhnya Nabi SAW bertakbir dan bertahlil (menyebut laa ilaaha illallaah) dengan suara keras dari mulai keluar hendak pergi shalat Iydul Fithri hingga sampai ke lapang. (HR. Al-Baihaqi, Nailul Authar III:355).

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ  صلى الله عليه وسلم كَانَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ  فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى

“Sesungguhnya Rasulullah SAW keluar pada hari Iydul Fithri dengan bertakbir hingga sampai di lapang” (HR. Ibnu Abu Syibah, al-Mushannaf, I:487).

كَانَ يَغْدُوْ إِلَى المُصَلَّى يَوْمَ الفِطْرِ إِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ، فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِىَ المُصَلَّى ثُمَّ يُكَبِّرُ بِالمُصَلَّى حَتَّى إِذَاجَلَسَ الإِمَامُ تَرَكَ التَّكْبِيْرَ. – رواه الشافعي -

Ibnu Umar berangkat pagi-pagi menuju mushala (tanah lapang) pada hari Iydul Fithri apabila terbit matahari, maka beliau bertakbir sehingga mendatangi mushala dan terus beliau bertakbir di mushala itu, sehingga apabila imam telah duduk beliau meninggalkan takbir. (HR. As-Syafi’I, Musnad As-Syafi’I, I: 73).

وَقَالَ الحَاكِمُ : وَهَذِهِ سُنَّةٌ تُدَاوِلُهَا أَئِمَّةُ اَهْلِ الحَدِيْثِ وَصَحَّتْ بِهِ الرِّوَايَةُ عَنْ  عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ وَغَيْرِهِ مِنَ الصَّحَابَةِ.

Dan Al-Hakim Mengatakan, “Ini adalah sunnah yang digunakan oleh para ahli hadits, dan shahih tentang ini riwayat dari Abdullah bin Umar dan lain-lain dari kalangan shahabat.” (Al-Mustadrak ala As-Shahihain, I : 298).

Sedangkan bertakbir pada iedul adha, Nabi saw. mencontohkannya sejak subuh 9 Dzulhijjah hingga ashar 13 dzulhijjah, sebagaimana diterangkan dalam hadis sebagai berikut:

عَنْ عَلِيٍّ وَعَمَّارِ أَنَّ النَّبِيَّ  صلى الله عليه وسلم… وَكَانَ يُكَبِّرُ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ بَعْدَ صَلاَةَ الْغَدَاةِ وَيَقْطَعُهَا صَلاَةَ الْعَصْرِ آخِرَ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ

Dari Ali dan Ammar sesungguhnya Nabi SAW… dan beliau bertakbir sejak hari ‘Arafah setelah shalat shubuh dan menghentikannya pada shalat ‘Ashar di akhir hari tasyriq (13 Dzulhijjah). (HR. Al-Hakim, Al-Mustadrak, I:439; Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, III:312).

Adapun teknis pelaksanaanya tidak mesti dengan cara membacanya secara terus menerus, melainkan memanfaatkan  kesempatan yang ada, baik ketika berkumpul di masjid atau di rumah masing-masing atau berbagai kesempatan lainnya, sebagaimana diamalkan oleh Ibnu Umar:

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ  يُكَبِّرُ بِمِنىً  تِلْكَ اْ لأَ يَّامَ وَخَلْفَ الصَّلَوَاتِ وَ عَلَى  فِرَاشِهِ وَ فِيْ فُسْطَاطِهِ وَ مَجْلِسِهِ وَ مَمْشَاهُ  تِلْكَ اْلأَيَّامَ جَمِيْعًا

Ibnu Umar pernah bertakbir di Minna pada hari-hari itu (Tasyriq) setelah shalat (lima waktu), di tempat tidurnya, di kemah, di majelis dan di tempat berjalannya pada hari-hari itu seluruhnya.”  (HR. Al-Bukhari).

Dengan demikian waktu untuk bertakbir – sejak hari ‘Arafah hingga ’Ashar di akhir hari tasyriq (13 Dzulhijjah) – itu tidak terikat, artinya tidak ada batasan dan ketentuan, pada  pokoknya bertakbir baik  sendirian, bersama-sama atau saling bergantian, kesemua itu tidak lepas dari pelaksanaan membaca takbir. Jadi, semua cara telah memenuhi perintah atau anjuran bertakbir.

Redaksi Takbir

Pada dasarnya tidak ada perbedaan tentang redaksi takbir antara Iydul ‘Adha dan Iydul Fithri. Ibnu Hajar menjelaskan:

وَأَمَّا صِيْغَةُ التَّكْبِيْرِ فَأَصَحُّ مَا وَرَدَ فِيْهِ مَا أَخْرَجَهُ عَبْدُ الرَّزَّاقِ بِسَنَدٍ صَحِيْحٍ عَنْ سَلْمَانَ قَالَ‏:‏كَبِّرُوْا اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا‏…‏

Adapun shighah (bentuk) takbir, maka yang paling shahih adalah hadis yang ditakhrij oleh Abdur Razaq dengan sanad shahih dari Salman, ia berkata, “Takbirlah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, kabiira. (Lihat, Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari , II: 536).

Selanjutnya Ibnu Hajar juga menjelaskan

وَقِيْلَ يُكَبِّرُ ثِنْتَيْنِ بَعْدَهُمَا لا إله إلا اللَّه و اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وللَّهِ الْحَمْدُ جَاءَ ذلِكَ عَنْ عُمَرَ وَابْنُ مَسْعُوْدٍ

“Dan dikatakan ia bertakbir dua kali (Allahu Akbar, Allahu Akbar), setelah itu Laa ilaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd. Keterangan itu bersumber dari Umar dan Ibnu Mas’ud. (Lihat, Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, II: 536).

Keterangan di atas menunjukkan bahwa lafal takbir (sesuai dengan amal shahabat) hanya 2 macam:

  • Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar kabiran.
  • Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.

    sedangkan yang memakai redaksi tambahan lain selain keterangan di atas, di dalam Fath Al-Bariditerangkan: Laa asla lahu (tidak mempunyai sumber sama sekali), yaitu:

  • redaksi Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar kabiira dengan tambahan wa lillaahilhamdu
  • redaksi Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalah
  • Redaksi panjang sebagai berikut

    اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا اللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا اللَّهَ مُخْلِصِينَ له الدَّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

    و الله أعلم

    الله يأخذبأيدينا إلى مافيه خيرللإسلام والمسلمين

    oleh Amin Saefullah Muchtar

Syari’at Shaum Bulan Dzulhijjah

بسم الله الرحمن الرحيم

Sebagaimana telah kita maklumi bahwa pada bulan Dzulhijjah bagi kaum muslimin yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji disyariatkan melaksanakan shaum pada tanggal 9 Dzulhijjah yang dikenal dengan sebutan shaum ‘Arafah, sebagaimana diterangkan dalam hadits sebagai berikut:

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبِلَةً ، وَصَوْمُ عَاشُوراَءَ يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً . – رواه الجماعة إلا البخاري والترمذي -

Dari Abu Qatadah ia berkata Rasulullah SAW. telah bersabda, “Shaum Hari ‘Arafah itu akan mengkifarati (menghapus dosa) dua tahun, yaitu setahun yang telah lalu dan setahun kemudian. Sedangkan shaum ‘Asyura akan mengkifarati setahun yang lalu.” HR. Al-Jama’ah kecuali Al-Bukhari dan at-Tirmidzi.

Selain dengan sebutan shaum ‘Arafah, shaum ini disebut pula dengan beberapa sebutan lain, yaitu:

  • Tis’a Dzilhijjah (9 Dzulhijjah)

عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ– رواه أبو داود وأحمد والبيهقي -

Dari sebagian istri Nabi SAW. ia berkata, “Rasulullah SAW. shaum tis’a Dzilhijjah, hari ‘Asyura, tiga hari setiap bulan” H.r. Abu Daud, Sunan Abu Dawud, Juz VI:418, No. 2081; Ahmad, Musnad Ahmad, 45:311, No. 21302, 53:424. No. 25263, dan al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, IV:285, Syu’abul Iman, VIII:268.

Dalam hadits ini disebut dengan lafal Tis’a Dzilhijjah, yang berarti tanggal 9 Dzulhijjah. Hadis ini memberikan batasan miqat zamani (ketentuan waktu pelaksanaan) shaum ini, yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah.

  • Shaum al-’Asyru

عَنْ حَفْصَةَ قَالَتْ : أَرْبَعٌ لَمْ يَكُنْ يَدَعُهُنَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  : صِيَامَ عَاشُورَاءَ وَ العَشْرَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَ الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ اْلغَدَاةِ – رواه أحمد و النسائي -

Dari Hafshah, ia berkata, “Empat perkara yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah saw. : shaum Asyura, shaum arafah, shaum tiga hari setiap bulan dan dua rakaat qabla subuh.”.H.r. Ahmad, al-Musnad, X : 167. No. 26521 dan an-Nasai, Sunan an-Nasai, II : 238.

Kata al-’Asyru secara umum menunjukkan jumlah 10 hari. Berdasarkan makna umum itu, maka dapat dipahami dari hadis tersebut bahwa Rasul tidak pernah meninggalkan shaum 10 hari bulan Dzulhijjah. Namun pemahaman itu jelas bertentangan dengan ketetapan Nabi sendiri yang melarang shaum pada hari Iydul Adha (10 Dzulhijjah). (Hr. An-Nasai, as-Sunan al-Kubra, II:150).

Demikian pula bila diartikan 9 hari pertama (dari tanggal 1-9) Dzulhijjah, hemat kami tidak tepat dilihat dari makna Al-’Asyr itu sendiri.

Hemat kami kata al-Asyru pada hadis ini sama maksudnya dengan Tis’a Dzilhijjah pada hadis di atas. Adapun penamaan shaum tanggal 9 Dzulhijjah dengan al-’Asyru, karena hari pelaksanaan shaum tersebut termasuk pada hari-hari al-’Asyru (10 hari bulan Dzulhijjah) yang agung sebagaimana dinyatakan Rasul dalam hadis sebagai berikut:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

Dari Ibnu Abbas, bahwasanya ia berkata, ‘Rasulullah saw. Bersabda, “Tidak ada dalam hari-hari yang amal shalih padanya lebih dicintai Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini. Para sahabat bertanya, ‘(apakah) jihad fi Sabilillah juga tidak termasuk? Rasul menjawab, ‘Tidak, kecuali seseorang yang berkorban dengan jiwanya dan hartanya kemudian dia tidak mengharapkan apa-apa darinya. Hr. At-Tirmidzi, Tuhfah al-Ahwadzi, III: 463.

Selain itu penamaan tersebut menunjukkan bahwa hari ‘Arafah itu hari yang paling agung di antara hari-hari yang sepuluh itu, sebagaimana dinyatakan oleh Nabi SAW.

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يَعْتِقَ اللهُ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ المَلاَئِكَةُ فَيَقُولُ : مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ ؟

“Tiada hari yang Allah lebih  banyak membebaskan hamba-Nya dari neraka melebihi hari Arafah, dan bahwa Ia dekat. Kemudian malaikat merasa bangga  dengan mereka, mereka (malaikat) berkata, ‘Duhai apakah gerangan yang diinginkan mereka?’” (H.r. Muslim, Shahih Muslim, I : 472).

Berbagai keterangan di atas menunjukkan bahwa penamaan shaum itu dengan yaum Arafah, Tis’a Dzilhijjah, dan al-Asyru menunjukkan bahwa pelaksanaan shaum tersebut terikat oleh miqat zamani, yakni tanggal 9 Dzulhijjah (hanya 1 hari).

Pertanyaan:

Bukankah pada hadits-hadits lain diterangkan bahwa shaum itu bukan hanya 9 Dzulhijjah?

Jawaban: 

Benar kami temukan sekitar 5 hadis yang menunjukkan bahwa shaum di bulan Dzulhijjah itu bukan hanya shaum ‘Arafah, namun hadits-hadits itu dhaif bahkan palsu sebagai berikut:

A.  Tanggal 1 dan 9 Dzulhijjah

فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ ذِي الْحِجِّةِ وُلِدَ إِبْرَاهِيمُ : فَمَنْ صَامَ ذلِكَ اليَوْمَ كَانَ كَفَّارَةُ سِتِّينَ سَنَةً.

“Pada malam awal bulan Dzulhijah itu dilahirkan Nabi Ibrahim, maka siapa yang shaum pada siang harinya, hal itu merupakan kifarat dosa selama enam puluh tahun.” (Lihat, Tadzkirrah al-Maudhu’at, hal. 119)

Dalam riwayat lain dengan redaksi:

فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ ذِي الْحِجِّةِ وُلِدَ إِبْرَاهِيمُ : فَمَنْ صَامَ ذلِكَ اليَوْمَ كَانَ كَفَّارَةُ ثَمَانِيْنَ سَنَةً – وَفِي رِوَايَةٍ – سَبْعِيْنَ سَنَةً وَفِي تِسْعٍ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ أَنْزَلَ اللهُ تَوْبَةَ دَاوُدَ فَمَنْ صَامَ ذلِكَ اليَوْمَ كَانَ كَفَّارَةُ سِتِّينَ سَنَةً – وَفِي رِوَايَةٍ – غَفَرَ اللهُ لَهُ كَمَا غَفَرَ ذَنْبَ دَاوُدَ

“Pada malam awal bulan Dzulhijah itu dilahirkan Nabi Ibrahim, maka siapa yang shaum pada hari itu, hal itu merupakan kifarat dosa selama delapan puluh tahun. Dan pada suatu riwayat tujuh puluh tahun. Dan pada 9 Dzulhijjah Allah menurunkan taubat Nabi Daud, maka siapa yang shaum pada hari itu, hal itu merupakan kifarat dosa selama enam puluh tahun.” Dan pada suatu riwayat: “Allah mengampuninya sebagaimana Dia mengampuni dosa Nabi Daud.” (H.r. ad-Dailami, al-Firdaus bi Ma’tsur al-Khitab, III:142, hadis No. 4381, II:21 No. 2136, IV:386, No. 7122; Lihat pula Tanzih as-Syari’ah, II:165 No. 50; Maushu’ah al-Ahadits wal Atsar ad-Dha’ifah wal Maudhu’ah, VI:235 No. 14.953)

Keterangan:

Hadits-hadits di atas dengan berbagai variasi redaksinya adalah maudhu (palsu) karena diriwayatkan oleh seorang pendusta bernama Muhamad bin Sahl. (Lihat, Tadzkirrah al-Maudhu’at, hal. 119)

B.  selama 10 hari pertama

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيهَا مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ ، يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ ، وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Tidak ada hari yang lebih dicintai Allah untuk beribadah padanya daripada 10 hari Dzulhijjah. Shaum setiap hari padanya sebanding dengan shaum setahun. Dan qiyamul lail setiap malam padanya sebanding dengan qiyam lailatul qadr. (ٍLihat, Sunan at-Tirmidzi, III:131; Syarh as-Sunnah, II:292). Dalam kitab al-’Ilal al-Mutanahiyah, II:563, Hadis No. 925, dengan redaksi

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبُّ إِلَى اللهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيْهَا مِنْ عَشْرَةَ ذِي الْحِجَّةِ يُعَدُّ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ وَقِيَامُ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Keterangan:

Imam at-Tirmidzi berkata, “Saya bertanya kepada Muhamad (al-Bukhari) tentang hadis ini, maka beliau tidak mengetahuinya selain dari jalur ini” Yahya bin Sa’id al-Qathan telah memperbincangkan Nahas bin Qahm dari aspek hapalannya. (Lihat, Sunan at-Tirmidzi, III:131).

Hadits di atas dhaif karena pada sanadnya terdapat dua rawi yang dhaif:

  • Pertama, Mas’ud bin Washil. Kata ad-Daraquthni, “Abu Daud at-Thayalisi menyatakan bahwa ia daif.” (Lihat, Ilal ad-Daraquthni, IX:200). Kata Ibnu Hajar, “Layyin al-Hadits” (Lihat, Tahdzib at-Tahdzib, X:109; Taqrib at-Tahdzib, hal. 528).
  • Kedua, Nahhas bin Qahm. Kata Ibnu Hiban, “Dia meriwayatkan hadis munkar dari orang-orang populer, menyalahi periwayatan para rawi tsiqat, tidak boleh dipakai hujjah.” (Lihat, Tahdzib al-Kamal, XXX:28) Kata Ibnu Hajar, “dha’if” (Lihat, Taqrib at-Tahdzib, hal. 566).

صِيَامُ أَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ الْعَشْرِ يَعْدِلُ مِائَةَ سَنَةٍ وَالْيَوْمِ الثَّانِي يَعْدِلُ مِائَتَي سَنَةٍ فَإِنْ كَانَ يَوْمَ التَّرْوِيَةِ يَعْدِلُ أَلْفَ عَامٍ وَصِيَامُ يَوْمَ عَرَفَةَ يَعْدِلُ أَلْفَي عَامٍ

“Shaum hari pertama dari 10 hari (Dzulhijjah) sebanding dengan 100 tahun. Hari kedua sebanding dengan 200 tahun, jika hari Tarwiyyah (8 Dzulhijjah) sebanding dengan 1000 tahun, dan shaum hari Arafah (9 Dzulhijjah) sebanding dengan 2000 tahun.” (H.r. ad-Dailami, al-Firdaus bi Ma’tsur al-Khitab,II:396, hadis No. 3755).

Keterangan:

Hadits ini dhaif, bahkan maudhu’ (palsu) karena pada sanadnya terdapat rawi Muhamad bin Umar al-Muharram. Kata Abu Hatim, “Dia pemalsu hadis.” (Lihat, ad-Dhu’afa wal Matrukin, III:96). Kata Ibn al-Jauzi, “Dia manusia paling dusta.” (Lihat, al-Maudhu’at, II:198).

C.  Tanggal 18 Dzulhijjah

مَنْ صَامَ يَوْمَ ثَمَانِيَّةَ عَشَرَ مِنْ ذِيْ الْحِجَّةِ كَتَبَ اللهُ لَهُ صِيَامَ سِتِّيْنَ شَهْرًا

“Siapa yang shaum hari ke-18 Dzulhijjah, Allah pasti mencatat baginya (pahala) shaum 60 bulan” (Lihat, Kasyf al-Khifa wa Muzil al-Ilbas, II:258hadis No. 2520; al-’Ilal al-Mutanahiyah, I:226, No. 356;al-Abathil wal Manakir, II:302, No. 714).

Keterangan:

Hadits ini dha’if, bahkan maudhu’ (palsu). Kata Imam ad-Dzahabi, “ini hadis sangat munkar, bahkan palsu.”  (Lihat, Kasyf al-Khifa wa Muzil al-Ilbas, II:258).

D. Hari Terakhir Bulan Dzulhijjah dan Hari Pertama Muharram

مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ وَأَوَّلَ يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ بِصَوْمٍ وَافْتَتَحَ السَّنَةَ الْمُسْتَقْبِلَةَ بِصَوْمٍ فَقَدْ جَعَلَ اللهُ لَهُ كَفَّارَةَ خَمْسِينَ سَنَةً.

“Siapa yang shaum pada hari terakhir bulan Dzulhijah dan hari pertama bulan Muharam, maka ia telah menutup tahun lalu dengan shaum dan membuka tahun yang datang dengan shaum. Sungguh Allah telah menjadikan kifarat dosa selama lima puluh tahun baginya” (Lihat, al-Laali al-Mashnu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah, II:92; al-Maudhu’at, II:199; Tadzkirrah al-Maudhu’at, hal. 118; Tanzih as-Syari’ah, II:176).

Dalam kitab al-Fawaid al-Majmu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah, hal. 96, No. 31 dengan sedikit perbedaan redaksi pada akhir hadis:

فَقَدْ جَعَلَهُ اللهُ كَفَّارَةَ خَمْسِينَ سَنَةً

Keterangan:

Hadits ini daif, bahkan maudhu’ (palsu). Pada sanadnya terdapat dua rawi pendusta, yaitu Ahmad bin Abdullah al-Harawi dan Wahb bin Wahb. Kata Imam as-Suyuthi, “keduanya pendusta.” (Lihat, al-Laali al-Mashnu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah, II:92) Kata Imam Ibn al-Jauzi, “Keduanya pendusta dan pemalsu hadits.” (lihat, al-Maudhu’at, II:199).

Kesimpulan:

Shaum yang disyariatkan secara khusus pada bulan Dzulhijjah hanya shaum Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah

و الله أعلم

الله يأخذبأيدينا إلى مافيه خيرللإسلام والمسلمين

oleh Amin Saefullah Muchtar

CITRA MATAHARI TERKINI
CITRA AWAN TERKINI